, Wahyu's Blog: Ilmu Komunikasi

Pages

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2012

HUBUNGAN KOMUNIKASI DENGAN KEHUMASAN

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon). Manusia hanya dapat hidup, berkembang, dan memenuhi kebutuhannya dengan berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lain.
Satu-satunya sarana untuk berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lainnya adalah komunikasi, baik secara verbal maupun non vebal. Dengan berkomunikasi, maka akan terjadi hubungan sosial antara individu yang satu dengan individu lainnya.
Komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehumasan dan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kehumasan (humas) bertujuan untuk menciptakan komunikasi dua arah atau timbal-balik, memecahkan konflik kepentingan, dan menciptakan pengertian berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang lengkap.[1] Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa humas merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi adalah humas.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.     Apa pengertian Komunikasi?
2.     Apa pengertian Kehumasan?
3.     Bagaimana hubungan Komunikasi dan Kehumasan?

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Komunikasi
Kata komunikasi berasal dari kata latin cum yaitu kata depan yang berarti dengan, bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata itu terbentuk kata benda communion yang dalam bahasa Inggris menjadi communion dan berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan usaha dan kerja, dari kata itu dibuat kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian kepada seseorang, tukar-menukar, membicarakan sesuatu dengan seseorang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman. Kata kerja communicare itu pada akhirnya dijadikan kata kerja benda communicatio, atau bahasa Inggris communication dan dalam bahasa Indonesia diserap menjadi komunikasi.[2]
Berdasarkan beberapa arti kata communicare yang menjadi asal kata komunikasi, maka secara etiomologi komunikasi berarti pertukaran pikiran, pembicaraan, atau hubungan.
Komunikasi diawali dengan adanya pesan dari seseorang (pengirim). Pesan itu dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain (penerima). Setelah pesan diterima dan dipahami oleh penerima, maka penerima dapat memberikan tanggapan (umpan balik) kepada pengirim. Dengan tanggapan  penerima pesan tersebut, pengirim dapat mengetahui efektifitas pesan yang dikirimnya.
Dari proses komunikasi tersebut, komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima) melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.
Adapun beberapa definisi komunikasi dari beberapa pakar, sebagai berikut:
1.       Laswell, menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.
2.       Carl L. Hovland, menyatakan bahwa komunikasi adalah proses di mana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulant biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.
3.       Theodorson dan Thedorson, menyatakan bahwa komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
4.       Edwin Emery, menyatakan bahwa komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide-ide dan sikap seseorang kepada orang lain.
5.       Deltont E, Mc Farland, menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara sesama manusia. [3]
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain. Dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena memang pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbal balik.[4]
Secara umum komunikasi dapat digambarkan bahwa: dalam kehidupan sosial, proses komunikasi tidak pernah berhenti sejak dari bangun tidur sampai tidur kembali.[5] Komunikasi senantiasa hadir dalam setiap sendi kehidupan manusia. Hal tersebut dapat dilihat bahwa setiap hari manusia mengadakan komunikasi, dengan ibu, bapak, saudara, dengan kawan atau dengan siapa saja, bahkan dengan diri sendiri (komunikasi intra personal). Komunikasi yang dilakukan oleh manusia bisa secara sadar maupun tidak sadar di manapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.
Pengertian Kehumasan
Kata kehumasan berasal dari akar kata humas yang merupakan singkatan dari hubungan masyarakat. Hubungan masyarakat (humas) merupakan terjemahan dari istilah public relations.
Menurut para pakar, hingga kini belum terdapat konsensus mutlak tentang definisi humas (public relations). Hal ini disebabkan oleh: pertama, beragamnya definisi public relations yang telah dirumuskan baik oleh para pakar maupun profesional humas yang didasari perbedaan sudut pandang mereka terhadap pengertian humas. Kedua, perbedaan latar belakang, misalnya definisi yang dilontarkan oleh kalangan akademisi perguruan tinggi akan lain bunyinya dengan apa yang diungkapkan oleh kalangan praktisi (public relations practitioner). Dan ketiga, adanya indikasi baik teoritis maupun praktis bahwa kegiatan kehumasan bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika kehidupan masyarakat yang mengikuti kemajuan zaman.[6]
Sam Black dan Melvin L. Sharpe menyatakan, kesulitan yang dialami profesi humas untuk merumuskan definisi yang dapat diterima oleh semua praktisi, disebabkan karena demikian kompleks dan beragamnya unsur profesi humas. Profesi ini terdiri atas banyak unsur keahlian khusus. Keahlian ini meliputi keahlian profesional, dari yang harus dimiliki oleh para pemula dan tingkat menengah di bidang humas dan penerbitan sampai tingkat konsultasi manajemen.[7]
Menurut Oemi Atiyah, humas adalah sebuah unit yang mempunyai tugas untuk membangun kerja sama, saling pengertian, saling menghargai dengan komunikasi dua arah. Humas merupakan fungsi manajemen yang membentuk dan mengelola hubungan saling menguntungkan antar organisasi dan masyarakat. Keberhasilan ini bergantung pada fungsinya.[8]
Adapun definisi humas menurut para pakar, antara lain sebagai berikut:
1.      J.C. Sendel, menyatakan bahwa humas adalah proses kontinu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para langganannya, pegawai dan publik umumnya, ke dalam dengan mengadakan analisis dan perbaikan-perbaikan diri sendiri, keluar dengan mengadakan pernyataan-pernyataan.
2.      W. Emerson Reck, menyatakan bahwa humas adalah kelanjutan dari proses penetapan kebijaksanaan, penentuan pelayanan-pelayanan dan sikap yang disesuaikan dengan kepentingan orang-orang atau golongan agar orang atau lembaga itu memperoleh kepercayaan dan goodwill dari mereka. Pelaksanaan kebijaksanaan pelayanan dan sikap adalah untuk menjamin adanya pengertian dan penghargaan yang sebaik-baiknya.
3.       Horward Bonham, menyatakan  bahwa humas adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu badan.[9]
Dari beberapa definisi yang dikemukakan sebelumnya, maka secara singkatnya humas dapat diartikan sebagai suatu kontak atau hubungan yang diadakan oleh suatu organisasi atau perusahaan dengan publik, baik publik internal maupun eksternal.
Hubungan Komunikasi dengan Kehumasan
Pada dasarnya, berbicara masalah hubungan komunikasi dengan kehumasan, sama halnya ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Menurut Arifuddin Tike, dakwah merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah.[10] Demikian pula dengan kehumasan (humas). Humas merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses komunikasi merupakan suatu proses kehumasan.
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan, bahwa tujuan penyelenggaraan hubungan masyarakat (humas) di antaranya adalah menciptakan komunikasi dua arah dan membentuk pengertian berdasarkan kebenaran, pengetahuan, dan informasi yang lengkap. Maka kegiatan kehumasan pada hakikatnya adalah kegiatan komunikasi, namun berbeda dengan kegiatan komunikasi lainnya. Kegiatan komunikasi dalam kehumasan mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut:
1.        Komunikasi dalam kegiatan humas berlangsung dua arah (timbal-balik).
2.        Kegiatan yang dilakukan terdiri atas penyebaran informasi, penggiatan persuasif, dan pengkajian pendapat umum.
3.       Tujuan yang hendak dicapai adalah tujaun perusahaan/ organisasi tempat humas berada;
4.       Sasaran yang dituju adalah khalayak internal dan khalayak eksternal;
5.       Efek yang diharapkan  adalah terbiananya hubungan yang harmonis antara perusahaan dan khalayak. [11]
Kehumasan senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu  dampak, yakni berupa perubahan yang positif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kunci sukses humas adalah melalui komunikasi. Artinya, keberhasilan humas untuk mencapai tujuannya bergantung kepada sejauh mana humas itu dapat menjalin hubungan yang baik dengan masyarakatnya, baik khalayak internal maupun eksternal.
Misi yang diemban oleh humas yakni memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijaksanaan, kegiatan dan tindakan organisasi/ perusahaan. Pelayanan informasi tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui komunikasi.
Publik humas dalam suatu organisasi/ perusahaan yang terdiri atas publik internal dan eksternal,  mempunyai karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu,  seorang humas profesional harus mempunyai keahlian komunikasi dalam menghadapi publik yang berbeda. Misalnya, organisasi “A” (organisasi kemahasiswaan, katakanlah Badan Eksekutif Mahasiswa) mempunyai publik internal (dalam hal ini anggota organisasi) dan eksternal yang berbeda dengan organisasi “B” (organisasi olahraga, katakanlah Persatuan Sepak Bola Makassar). Karakteristik, termasuk tingkat dan latar belakang pendidikan,  sosial, dan budaya publik internal organisasi “A” berbeda dengan organisasi “B”. Begitu pula dengan publik eksternal, katakanlah media. Organisasi “A” mempunyai hubungan dengan media yang berbeda dengan organisasi “B”. Kalaupun medianya sama, maka redaksi yang dituju berbeda. Bisa jadi, organisasi “A” menghubungi redaksi Kampus pada suatu media surat kabar, sementara organisasi “B” (pada media yang sama) menghubungi redaksi Olahraga.
Melalui komunikasi pula, humas dapat menyampaikan informasi, mendorong/ memotivasi, mempersuasi, mempengaruhi, dan merubah sikap khalayak/ publik. Demikian pula dalam tugas humas untuk membina hubungan baik, saling pengertian, saling membutuhkan, dan saling mendukung adanya organisasi di satu pihak dengan keberadaan masyarakat di lain pihak.[12] Umpamanya, suatu organisasi massa (ormas) akan membentuk cabang di Kabupaten Barru. Pengurus ormas tersebut belum pernah berkomunikasi secara intensif dan menyeluruh dengan masyarakat tentang pembentukan cabang ormas tersebut. Saat akan dideklarasikan, tiba-tiba sekelompok masyarakat melakukan demonstrasi terhadap pembentukan cabang ormas tersebut. Mereka khawatir bahwa ormas tersebut akan memprovokasi masyarakat untuk berbuat anarkis dan semacamnya. Sebagai seorang humas pada ormas tersebut, sebaiknya melakukan pendekatan secara persuasif kepada masyarakat sekitar sebelum ormas tersebut dideklarasikan. Informasi yang jelas, akurat, dan dapat dipercaya akan memperkecil, bahkan menghilangkan konflik antara ormas dengan masyarakat sekitar. Kemampuan berkomunikasi secara persuasif sangat dibutuhkan pada kondisi seperti ini.
Dari pendeskripsian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kunci sukses suatu komunikasi dalam kehumasan, sangat tergantung pada proses pelaksanaan komunikasi yang efektif.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.       Komunikasi adalah suatu proses pengiriman pesan dari komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima) melalui media tertentu dengan mengharapkan umpan balik untuk menghasilkan efek.
2.       Kehumasan (humas) adalah suatu kontak atau hubungan yang diadakan oleh suatu organisasi atau perusahaan dengan publik, baik publik internal maupun eksternal. Kehumasan merupakan suatu proses komunikasi dengan ciri khas komunikasi dua arah (timbal-balik).
3.      Hubungan komunikasi dengan kehumasan sama halnya ketika berbicara masalah hubungan komunikasi dengan dakwah. Dakwah merupakan suatu proses komunikasi, namun tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah. Demikian pula dengan kehumasan (humas). Humas merupakan suatu proses komunikasi, namun belum tentu proses komunikasi merupakan suatu proses kehumasan.


DAFTAR PUSTAKA
Buku Acuan
Atiya, Oemi Atiyah, 2007. "Profesionalisme Kehumasan", Komunika, Vol. 10, No. 1.
Black, Sam., dan L. Sharpe, Melvin. 1988. Practical Public Relations Common-Sense Guidelines for Business and Professional People. Diterjemahkan oleh Ardaneshwari dengan judul: Ilmu Hubungan Masyarakat Praktis. PT Intermasa, Jakarta.
M. Hardjana, Agus. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Rajawali Pers, Jakarta. 
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Media Pressindo, Yogyakarta.
Tike, Arifuddin. 2009. Dasar-Dasar Komunikasi. Kota Kembang, Yogyakarta.

Internet
http://blog.elearning.unesa.ac.id/m-saikhul-arif/makalah-komunikasi-dalam-pendidikan
http://teorikuliah.blogspot.com/2009/07/ruang-lingkup-humas.html


[1] Sam Black dan Melvin L. Sharpe, Practical Public Relations Common-Sense Guidelines for Business and Professional People, diterjemahkan oleh Ardaneshwari dengan judul: Ilmu Hubungan Masyarakat Praktis, (Jakarta: PT Intermasa, 1988), h. 3.
[2] Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), h. 10
[3] Tommy Suprapto, Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi, (Yogyakarta: Media Pressindo, 2009), h. 5-6.
[4] http://blog.elearning.unesa.ac.id/m-saikhul-arif/makalah-komunikasi-dalam-pendidikan
[5] Arifuddin Tike, Dasar-Dasar Komunikasi, (Yogyakarta: Kota Kembang, 2009), h. 2.
[6] Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h. 15.
[7] Sam Black dan Melvin L. Sharpe, op.cit., h. 4.
[8] Oemi Atiyah, "Profesionalisme Kehumasan", Komunika, Vol. 10, No. 1, 2007, h. 29.
[9] Ibid., h. 37.
[10] Arifuddin Tike, op,cit., h. 107.
[11] Ibid.
[12] http://teorikuliah.blogspot.com/2009/07/ruang-lingkup-humas.html

Rabu, 12 September 2012

RESUME PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI



BAB I “KOMUNIKASI DAN MASALAHNYA”
?      Pengertian Komunikasi
8      Dalam Bahasa Inggris, Komunikasi disebut Communication, yang artinya berita, pengumuman, atau pemberitahuan.
8      Dalam Bahasa Latin, Komunikasi disebut Communication atau Communis yang berarti sama, sama maknanya, atau mempunyai kesamaan pandangan.
8       Pengertian komunikasi secara umum:
Proses yang tidak pernah berhenti dalam kehidupan sosial sejak dari bangun tidur sampai tidur kembali.
8       Pengertian komunikasi secara paradigmatik:
Suatu mekanisme mengadakan hubungan antar sesama manusia dengan mengembangkan semua lambang-lambang dan pikiran bersama dengan arti yang menyertainya.
8      Setidaknya ada empat kata kunci dalam Al-Qur’an yang memberikan isyarat tentang komunikasi, yakni: al-bayaan (البيان), at-ta’aaruf (التعارف), an-naba’ (النبا), dan al-qaul (القول).
?      Unsur-Unsur Komunikasi
8      Sumber, yakni dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan. Al-Qur’an, Komunikator/Pengirim termasuk dalam unsur ini.
8      Pesan, yakni keseluruhan dari apa yang disampaikan pengirim kepada penerima.
8      Media, yakni alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima pesan.
8       Penerima, yakni pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber.
8      Efek, yakni hasil akhir dari suatu komunikasi. Dengan kata lain, perbedaan antara apa yang dipirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima pesan sebelum dan sesudah menerima pesan.
8      Umpan Balik, yakni adalah salah satu bentuk dari pengaruh atau efek yang berasal dari suatu pesan atau media, meskipun pesan itu belum sampai pada penerima. Tidak semua umpan balik berasal dari penerima, namun bisa saja berasal dari media.
8      Lingkungan, yakni salah satu faktor yang mempengaruhi jalannya suatu proses komunikasi. Jika terjadi gangguan lingkungan, maka bisa menyebabkan komunikasi tidak berlangsung dengan baik.
?     Tujuan dan Fungsi Komunikasi
1.   Tujuan
8        Untuk memberikan pengertian kepada penerima pesan tentang apa yang dimaksudkan oleh pemberi pesan.
8         Untuk memahami orang lain.
8         Untuk menggerakkan orang lain melakukan sesuatu.
8         Untuk menyatakan perasaan.
2.     Fungsi
8          Pengematan terhadap lingkungan.
8          Korelasi unsur-unsur masyarakat ketika menanggapi lingkungan.
8          Penyebaran warisan sosial.
?    Lambang-Lambang Komunikasi, Proses Komunikasi dan Bentuk-Bentuk Komunikasi
1.    Lambang-Lambang Komunikasi
a.     Lambang Verbal
8      Sound Writtean, yakni bahasa tertulis yang berdasarkan bunyi suara. Seperti: Bahasa Indonesia (yang menggunakan abjad Latin atau abjad bahasa Arab), Bahasa Rusia (yang menggunakan abjad Cyrillis.
8       Sign Writing, yakni bahasa tertulis yang berdasarkan tanda. Seperti: Bahasa Tionghoa.
b.     Lambang Non Verbal
8       Isyarat-isyarat, yakni lambang komunikasi yang menggunakan berbagai alat, baik anggota badan maupun yang lainnya.
8       Lukisan, yakni lambang komunikasi berupa  gambar. Baik itu gambar tidak bergerak (visual), maupun gambar yang bergerak yang dilengkapi suara, warna, dan sebagainya (audiovisual).
8       Tanda-tanda, yakni lambang komunikasi berupa bunyi-bunyian. Seperti: bunyi beduk, dan sebagainya.
8      Sikap, yakni sifat-sifat tertentu yang ditampilkan seseorang dalam menghadapi orang lain.
2.    Proses Komunikasi
a.     Proses Komunikasi secara Primer, yakni proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang-lambang sebagai media. Lambang-lambang tersebut antara lain: bahasa, kial, isyarat dan gambar.
b.    Proses Komunikasi secara Sekunder, yakni proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang-lambang komunikasi sebagai media pertama.
3.    Bentuk-Bentuk Komunikasi
a.  Komunikasi Intra Pribadi, yakni komunikasi dengan diri sendiri atau proses komunikasi yang terjadi dalam diri individu.
b.  Komunikasi Antar Pribadi, yakni komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara tatap muka dan bisa juga dengan media.
c.  Komunikasi Kelompok, yakni komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok kecil.
d.  Komunikasi Massa, yakni komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak secara massal.


BAB II “LAHIRNYA ILMU KOMUNIKASI”
?Ilmu komunikasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri didasarkan pada tumbuh dan berkembangnya tiga disiplin ilmu, yakni:
1.    Publisistik
2.    Jurnalistik
3.    Retorika
? Perkembangan Komunikasi
8      Di Amerika Serikat ilmu komunikasi mula-mula muncul sebagai pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan yang obyek studinya adalah pers, atau yang dikenal dengan Journalism.
8      Pada tahun 1632 di Amerika Serikat muncul surat kabar pertama di Harvard College.
8      Sekitar tahun 1903, Joseph Pulitzer berusaha mendirikan pendidikan journalism (School of Journalism).
8       Dengan perkembangan teknologi dan dengan ditemukannya radio pada tahun 1920-an, film, televise pada tahun 1948, maka studi jurnalistik di Amerika Serikat tidak hanya mempunyai obyek pers saja, tetapi berkembang menjadi pers, radio, film, dan televise. Karena itu, Journalism berkembang menjadi Mass Communication.
8      Dari penelitian beberapa sarjana, mass communication (media massa) berubah menjadi ilmu komunikasi (Communication Science atau Communicology) karena ternyata pengaruh mass communication tidak cukup besar dalam mengubah pendapat, sikap, dan perilaku komunikasi.


BAB III “STRATEGI KOMUNIKASI”
?Strategi adalah suatu cara yang ditempuh dalam penyampaian pesan yang erat kaitannya dengan perencanaan dan manajemen untuk mencapai suatu sasaran tertentu. Strategi tidak hanya menunjukkan suatu jalan saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.
?    Ada dua hal yang perlu diperhatikan terkait dengan strategi komunikasi, yakni:
1.     Tujuan Sentral dalam Komunikasi
Menurut R. Wayne Pace, Brent D. Peterson dan M. Dallas Burnett, tujuan sentral dalam komunikasi terdiri atas:
8     To secure understanding, yakni memastikan bahwa komunikan dapat mengerti komunikasi yang diterimanya.
8     To estabilish acceptionce, yakni ketika penerima sudah memahami pesan yang diterimanya, maka selanjutnya pesan yang diterima tersebut harus dibina.
8     To motivate action, yakni pesan yang diterima dimotivasikan.
2.     Korelasi antar Komponen dalam Strategi Komunikasi
a.     Mengenai Sasaran Komunikasi
Sebelum berkomunikasi, kita perlu mempelajari siapa-siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi kita itu. Apapun tujuannya, metodenya, dan banyaknya sasaran, pada diri komunikan perlu diperhatikan faktor-faktor berikut:
8     Faktor Kerangka Referensi
Kerangka referensi seseorang berbeda-beda tergantung tingkat pendidikan dan jenis profesi yang ditekuninya. Maka dari itu, pesan yang disampaikan kepada komunikan harus berdasarkan kerangka referensi (frame of referency)nya.
Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW:
خاطب الناس على قدر عقولهم
Artinya: Ajarkanlah/sampaikanlah kepada mereka sesuai dengan kadar kemampuannya.
8    Faktor Situasi dan Kondisi
Situasi adalah situasi komunikasi pada saat komunikan akan menerima pesan yang disampaikan komunikator.
Kondisi adalah keadaan fisik dan psikis (state of personality) komunikan pada saat ia menerima pesan.
8     Pemilihan Media Komunikasi
Untuk dapat mencapai sasaran komunikasi, komunikator dapat memilih salah satu atau beberapa gabungan media, tergantung tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan tehnik yang akan dipergunakan.
8    Pengkajian Tujuan Pesan Komunikasi
Untuk mencapai tujuan, pesan komunikasi sangat menentukan tehnik yang harus diambil, apakah tehnik informasi itu persuasi, atau tehnik instruksi.
8     Peranan Komunikator dalam Komunikasi
Faktor yang terpenting pada diri komunikator dalam melancarkan komunikasi yaitu daya tarik sumber dan kredibilitas sumber.


BAB IV “KOMUNIKASI DAN PENDAPAT UMUM”
?     Pengertian Pendapat Umum
8       Umum/ publik adalah kelompok manusia yang berkumpul secara spontan yang memiliki indikasi berikut:
1.  sedang menghadapi suatu persoalan;
2.  ada perbedaan pendapat antar individu;
3.  mencari jalan keluar.
8       Pendapat Umum adalah pendapat rata-rata individu dalam masyarakat sebagai hasil diskusi tidak langsung yang dilakukan untuk memecahkan masalah sosial, terutama yang ditimbulkan media komunikasi.
?    Jenis-Jenis Pendapat Umum
1.     Pendapat umum yang kompeten, yakni apabila suatu pendapat umum mampu mengubah, mengarahkan perkembangan masyarakatnya.
2.     Pendapat umum yang laten, yakni apabila suatu pendapat umum tersembunyi, yang tidak atau belum dinyatakan.
?   Proses Pembentukan Pendapat Umum
1.     Sejumlah orang menyadari suatu situasi dan masalah yang dianggap perlu dipecahkan.
2.     Beberapa alternatif lain sebagai sarana pemecahan masalahnya ditemukan sehingga terjadilah diskusi.
3.     Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan pilihan terhadap salah satu atau beberapa alternatif yang disetujui bersama.
4.     Berdasarkan keputusan, dirumuskanlah suatu perincian pelaksanaan tindakan dalam bentuk program kerja.
?    Efek Pendapat Umum terhadap Komunikasi
Pendapat umum dapat mempengarui komunikasi dengan melalui kesesuaian ideologi yang sungguh-sungguh.
?    Efek Komunikasi terhadap Pendapat Umum
Isi komunikasi lebih efektif dalam mempengaruhi pendapat umum mengenai persoalan, kalau persoalannya baru atau tidak terususun yakni persoalan-persoalan yang tidak bertalian khusus dengan sikap kelompok yang ada.
?    Kedudukan Pemuka Pendapat dalam Pembentukan Pendapat Umum
Pemuka pendapat adalah orang yang berada dalam kedudukan sosial tertentu yang dianggap mempunyai kemampuan, kekuasaan dan wewenang yang sah atau diakui oleh sejumlah orang.
Dalam kenyataan sosial, dapat dikemukakan bahwa ada tiga elit/kelompok yang dapat dianggap pemuka pendapat, yakni:
1.    Elit Formal
2.    Elit Agama
3.    Elit Adat


BAB V “KOMUNIKASI DAN DAKWAH”
? Pengertian Dakwah
8      Kata dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu kata دعا - يدعو - دعوة yang berarti ajakan, seruan, panggilan, do’a atau permohonan dan semacamnya.
8      Dakwah adalah setiap usaha umat manusia baik dengan cara lisan maupun tulisan yang sifatnya menyeru, memanggil manusia ke jalan Tuhan untuk senantiasa beriman kepada-Nya serta mengamalkan syariat Islam.
8       Dakwah dalam penerapannya di tengah-tengah masyarakat dilakukan dalam bentuk tabligh, keteladanan (bil hal), dan dialog.
? Dakwah Sebagai Bentuk Komunikasi yang Khas
8       Dakwah merupakan suatu proses komunikasi, tapi tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah.
8       Dakwah merupakan suatu bentuk komunikasi yang khas yang dapat dibedakan dari bentuk komunikasi lainnya dalam beberapa hal berikut:
1.    Siapa pelakunya?
2.    Apakah pesan-pesannya?
3.    Bagaimanakah metodenya?
4.    Apakah tujuannya?


?       Komunikasi Dakwah dan Integrasi Sosial
8      Komunikasi dakwah merupakan suatu dasar terwujudnya suatu interaksi sosial yang diwarnai kasih sayang atau dikenal dengan istilah silaturrahmi.
8      Komunikasi dakwah sebagai dasar interaksi sosial dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis yang terdapat di dalam diri setiap individu, yaitu:
1)     Faktor imitasi, yakni meniru tingkah laku atau sikap dari orang lain yang dianggap ideal untuk dirinya.
2)     Faktor sugesti, yakni pengaruh psikis-rohani yang dalam diri (mad’u/komunikan) menghasilkan suatu sikap tertentu.
3)     Faktor identifikasi, yakni suatu kecenderungan seseorang untuk menjadi identik dengan orang lain.
4)     Faktor simpati, yakni  perasaan tertarik seseorang terhadap orang lain.